Tantangan Terkini Islam Indonesia di Dunia Modern

By | 15 November 2016

aicis

Dalam sesi talk show interaktif di rangkaian penyelenggaraan Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-XVI di Bandar Lampung , terdapat empat narasumber panel yang mengemukakan pandangannya mengenai tantangan Islam Indonesia di tengah gejolak dinamisasi dunia modern.

Adapun beberapa pembicara dalam sesi talk show interaktif dimaksud antara lain : Prof. Thomas Lindgren (Swedia), Dr. Kevin Fogg (Oxford University), Pangiran Mahani binti Pangiran Haji Ahmad (Brunei Darussalam), dan Habiburrahman el-Shirazy (Indonesia).

Prof. Thomas menyampaikan tentang tantangan menghadapi radikalisasi yang dilakukan oleh sekelompok umat Islam seperti Jamaah Islamiyah dan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Menurutnya target doktrinasi kelompok tersebut adalah para remaja dimana sekitar 10% nya adalah remaja perempuan, “perubahan keyakinan seseorang disebabkan oleh proses psikologis dan sosial. Manusia bisa dipengaruhi melalui perasaan dan emosional yang didukung oleh ketidaksesuaian ideologi, perubahan situasi politik, dan ketidakadilan ekonomi”.

“Proses sosial terjadi melalui pertemanan, budaya remaja, kekerabatan dan kebersamaan. Hubungan sosial tersebut telah membuat kelompok teroris tersebut semakin besar, kolektif dan terencana untuk melakukan teror”, terang Thomas.

Sementara Kevin Fogg menggambarkan tentang luar biasanya pergerakan organisasi Islam di Indonesia khususnya Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah. Hal ini karena kedua organisasi tersebut merupakan organisasi terbesar yang secara komprehensif mempengaruhi keseharian kehidupan umat muslim di Indonesia. “Kedua organisasi tersebut termasuk organisasi modern, bisa terlihat dari struktur organisasinya yang menjangkau ke desa dan kelurahan. Pergerakannya independen dan selalu menjaga dari nilai-nilai politik. Selain fokus kepada aktivitas agama dan tidak berlawanan dengan pemerintah dan saling menghormati antar sesama”, tegas Kevin.

Perwakilan Brunei Darussalam Mahani menjelaskan tentang konsep Melayu Islam Beraja (MIB), yang merupakan falsafah nasional negara Brunei Darussalam. Dijelaskan bahwa konsep tersebut campuran bahasa-adat-budaya melayu dengan syariat-nilai Islam serta dengan sistem monarki yang mesti dihormati dan diamalkan oleh semua warga negara Brunei Darussalam.

“Brunei menolak konsep sekulerisme yang bertentangan dengan konsep filsafat Islam. Penerapan nilai-nilai ajaran Islam dirujuk dari golongan Ahlus Sunnah Wal Jamaah yaitu mengikuti Mahzab Imam Syafi`i. Sultan berperan sebagai ulil amri yakni kepala negara, kepala pemerintahan, juga pemimpin tertinggi agama Islam yang bertindak dalam menentukan keputusan atas suatu masalah. Pengambilan keputusan dibantu oleh mufti kerajaan (pemutus fatwa)”, terang Mahani.

Menurutnya syariat Islam bukan berarti warga non-muslim tidak diakui haknya sebagai warga negara Brunei Darussalam, “hak kemakmuran, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan merupakan hak dasar semua warga Brunei. Hal ini bisa terlihat dari indeks pembangunan manusia Brunei yang menempati peringkat kedua di Asia Tenggara setelah Singapura”.

Terakhir Kang Abik (Habiburrahman el-Shirazy) banyak menjelaskan tentang gurindam dua belas karya Raja Ali Haji. Syair yang dibahas merupakan pasal pertama yaitu “barangsiapa mengenal Allah SWT, suruh dan teganya tiada ia mengalah, barangsiapa mengenal diri, maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri, barangsiapa mengenal dunia, tahulah ia barang yang terperdaya”. Itulah beberapa penggalan gurindam dua belas yang dijelaskan Kang Abik bahwa telah terjadi penipisan ilmu ke-Islaman yang cinta damai sehingga menimbulkan radikalisme di Indonesia.

“Dahulu kala, para wali memiliki ilmu agama yang sangat tinggi sehingga masyarakat mudah terbimbing melalui budaya dan syair yang sesuai dengan peradabannya. Masyarakat mudah meresapi melalui penglihatan, pendengaran, pemikiran dan perasaan yang halus. Oleh karena itu, Ibnu Khaldun pernah berkata bahwa permasalahan internal harus diselesaikan melalui ilmu pengetahuan, khususnya pemahaman tentang Islam. Jika paham Islam tidak mungkin menyinggung apalagi membunuh”, terang Abik.

sumber : pendis.kemenag.go.id

Loading...

Tinggalkan Balasan