Mengenal Karakteristik Peserta Didik Berdasarkan Aspek Moral

By | 18 Maret 2017

Istilah moral berasal dari kata Latin “mos” (moris) yang berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan/nilai-nilai atau tata cara kehidupan. Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral.

Nilai-nilai moral itu, seperti seruan untuk berbuat baik kepada orang lain, memelihara ketertiban dan keamanan, memelihara kebersihan, dan memelihara hak orang lain, serta larangan mencuri, berzina, membunuh, meminum minuman keras dan berjudi. Seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh kelompok sosialnya.

Perkembangan Moral

Perkembangan  moral  adalah  suatu  perubahan  yang  berkaitan  dengan budaya mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh sekelompok orang dalam hubungannya dengan kelompoknya ataupun dengan orang lain (Suryabrata, 1984). Anak-anak ketika dilahirkan tidak memiliki moral (imoral).  Tetapi dalam  dirinya terdapat potensi moral yang siap untuk dikembangkan. Karena itu, dalam pengalamannya  berinteraksi dengan orang lain (dengan orang tua, saudara, teman sebaya, atau guru), anak belajar memahami tentang perilaku mana yang baik, yang dikerjakan dan tingkah laku yang buruk, yang tidak boleh dikerjakan.

Teori Psikoanalisa tentang Perkembangan Moral

Dalam menggambarkan perkembangan moral, teori psikoanalisa dengan pembagiaan struktur kepribadian manusia atas tiga, yaitu id, ego, dan superego. Id adalah struktur kepribadian yang terdiri atas aspek biologis yang irasional dan tidak disadari. Ego adalah struktur kepribadian yang terdiri dari aspek psikologis, yaitu sub sistem ego yang rasional dan disadari, namun tidak memiliki moralitas. Sedangkan superego adalah struktur kepribadian yang terdiri atas aspek sosial yang berisikan sistem nilai dan moral, yang benar-benar memperhitungkan benar dan salahnya sesuatu.

Teori belajar tentang perkembangan moral

Teori belajar sosial melihat tingkah laku moral sebagai respons atas stimulus. Dalam hal ini, proses-proses penguatan, penghukuman dan peniruan digunakan untuk menjelaskan perilaku moral anak-anak.

  1. Teori Kognitif Piaget tentang Perkembangan Moral

Teori kognitif  Piaget mengenai perkembangan moral melibatkan  prinsip- prinsip dan proses-proses yang sama dengan pertumbuhan kognitif yang ditemui dalam  teorinya tentang perkembangan intelektual.  Bagi Piaget  perkembangan moral digambarkan melalui aturan permainan. Berdasarkan  hasil observasinya tahapan    aturan-aturan    permainan    yang    digunakan    anak-anak,    piaget menyimpulkan bahwa pemikiran anak-anak tentang moralitas dapat dibedakan atas dua tahap, yaitu:

a) Tahap Heterononous Morality

Tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak usia kira-kira 6 hingga 9 tahun. Anak-anak pada masa ini yakin akan keadilan immanen, yaitu konsep bahwa bila suatu aturan yang dilanggar, hukuman akan segera dijatuhkan.

b) Tahap Autonomous Morality

Tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak usia kira-kira 9 hingga 12 tahun. Anak mulai sadar bahwa aturan-aturan dan hukuman-hukuman merupakan ciptaan manusia dan dalam penerapan suatu hukuman atau suatu tindakan harus mempertimbangkan maksud pelaku serta akibat-akibatnya.

2. Teori Kohlberg tentang Perkembangan Moral

Teori kohlberg tentang perkembangan moral merupakan pelumas, modifikasi, dan redefeni atas teori Piaget. Teori ini didasarkan atas analisisnya terhadap hasil wawancara  dengan  anak  laki-laki  usia  10  hingga  16  tahun  yang  dihadapkan dengan  suatu  dilema  moral,  di  mana  mereka  harus  memilih  antara  tindakan menaati peraturan atau memenuhi kebutuhan hidup dengan cara yang bertentangan dengan beraturan.

Hal penting  dari teori perkembangan moral Kohlberg  adalah  orientasinya untuk mengungkapkan moral yang hanya ada dalam pikiran dan yang dibedakan dengan tingkah laku moral dalam arti perbuatan nyata.

Moral merupakan suatu kebutuhan yang penting bagi remaja, terutama sebagai pedoman untuk menentukan identitas dirinya, mengembangkan hubungan personal yang harmonis, dan menghindari konflik-konflik peran yang selalu terjadi dalam masa transisi. Moralitas pada hakitatnya adalah penyelesaian konflik antara dirinya dan orang lain, antara hak dan kewajiban .

 

baca juga : cara meningkatkan konsentrasi agar optimal dalam belajar

Tahapan Perkembangan Moral

Lawrence Kohlberg mengkatagorisasi dan mengklasifikasi respon yang dimunculkan kedalam tiga tingkatan: prakonfensional, konvensional, dan pascakonvensional. Karakteristik untuk masing-masing tahapan perkembangan moral yang dimaksud seperti berikut :

1)  Tingkat I umur 0-9 tahun Prakonvensional, dimana moralitas heteronomy (orientasi kepatuhan dan hukuman) melekat pada aturan, dan individualisme (orientasi minat pribadi) kepentingan nyata individu.

2)  Tingkat II 9-15 tahun Konvensional. Tahap Reksa interpersonal (orientasi keserasian interpersonal dan konformitas (sikap anak baik).   Mengharapkan hidup yang terlihat baik oleh orang lain dan kemudian telah menganggap dirinya baik. Sistem sosial dan hati nurani (orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial (moralitas hukum dan aturan).    Memenuhi tugas sosial untuk menjaga sistem sosial yang berlangsung.

3)  Tingkat III diatas 15 tahun   Pascakonvensional , Kontrak sosial   Relatif menjunjung  tinggi  aturan  dalam  memihak  kepentingan  dan  kesejahteraan untuk semua. Prinsip etika universal   Prinsip etis yang dipilih sendiri, bahkan ketika ia bertentangan dengan hukum

Perkembangan moral menurut Piaget terjadi dalam dua tahapan yang jelas. Tahap pertama disebut “tahap realisme moral” atau “moralitas oleh pembatasan”  dan tahap kedua  disebut “tahap moralitas otonomi” atau “moralitas oleh kerjasama atau hubungan timbal balik”.

Pada tahap pertama, perilaku anak ditentukan oleh ketaatan otomatis terhadap peraturan tanpa penalaran atau penilaian. Mereka menganggap orang tua dan semua orang dewasa yang berwenang sebagai maha kuasa dan anak

mengikuti   peraturan   yang   diberikan   oleh   mereka   tanpa   mempertanyakan kebenarannya.

Pada tahap kedua, anak menilai perilaku atas dasar tujuan yang mendasarinya. Tahap ini biasanya dimulai antara usia 7 atau 8 tahun dan berlanjut hingga usia 12 tahun atau lebih. Anak mulai mempertimbangkan keadaan tertentu yang berkaitan dengan suatu pelanggaran moral.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Moral

Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungannya. Anak memperoleh nilai-nilai moral dari lingkungannya, terutama dari orangtuanya. Dia belajar untuk mengenal nlai-nilai dan berprilaku sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Dalam mengembangkan nilai moral anak, peranan orangtua sangatlah penting, terutama pada waktu anak masih kecil. Beberapa sikap orangtua yang perlu diperhatikan sehubungan dengan perkembangan moral anak, diantaranya sebagai berikut :

  1. Konsisten dalam mendidik anak

Ayah dan ibu harus memiliki sikap dan perlakuan yang sama dalam melarang atau membolehkan tingkah laku tertentu kepada anak. Suatu tingkah laku anak yang dilarang oleh orangtua pada suatu waktu, harus juga dilarang apabila dilakukan pada waktu lain.

2. Sikap orangtua dalam keluarga

Secara tidak langsung, sikap orangtua terhadap anak, sikap ayah terhadap ibu, atau sebaliknya, dapat mempengaruhi perkembangan moral anak, yaitu melalui proses peniruan (imitasi). Sikap orangtua yang keras (otoriter) cenderung melahirkan sikap disiplin semu pada anak, sedangkan sikap yang acuh tak acuh atau sikap masa bodoh, cenderung mengembangkan sikap kurang bertanggungjawab dan kurang mempedulikan norma pada diri anak. Sikap yang sebaiknya dimiliki oleh orangtua adalah sikap kasih saying, keterbukaan, musyawarah (dialogis).Interaksi dalam keluarga turut mempengaruhi perkembangan moral anak

3. Penghayatan dan pengamalan agama yang dianut

Orangtua merupakan panutan (teladan) bagi anak, termasuk disini panutan dalam  mengamalkan  ajaran  agama.  Orangtua  yang  menciptakan  iklim  yang religius (agamis), dengan cara memberikan ajaran atau bimbingan tentang nilai- nilai agama kepada anak, maka anak akan mengalami perkembangan moral yang baik.

4. Sikap konsisten orangtua dalam menerapkan norma

Orangtua yang tidak menghendaki anaknya berbohong, atau berlaku tidak jujur, maka mereka harus menjauhkan dirinya dari prilaku berbohong atau tidak jujur.

Dalam usaha membentuk tingkah laku sebagai pencerminan nilai-nilai hidup terterntu, Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan moral peserta didik, diantaranya yaitu:

  1. Faktor tingkat harmonisasi hubungan antara orang tua dan anak.
  2. Faktor seberapa banyak model (orang-orang dewasa yang simpatik, teman-teman, orang-orang yang terkenal dan hal-hal lain) yang diidentifikasi oleh anak sebagai gambaran-gambaran ideal.
  3. Faktor   lingkungan   memegang   peranan   penting.   Diantara   segala   unsur lingkungan sosial yang berpengaruh, yang tampaknya sangat penting   adalah unsur lingkungan berbentuk manusia yang langsung dikenal atau dihadapi oleh seseorang sebagai perwujudan dari nilai-nilai tertentu.
  4. Faktor selanjutnya yang memengaruhi perkembangan moral adalah tingkat penalaran. Perkembangan moral yang sifatnya penalaran menurut Kohlberg, dipengaruhi oleh perkembangan nalar sebagaimana dikemukakan oleh Piaget. Makin tinggi tingkat penalaran seseorang menrut tahap-tahap perkembangan Piaget, makin tinggi pula tingkat moral seseorang.
  5. Faktor   Interaksi   sosial   dalam   memberi   kesepakatan   pada   anak   untuk mempelajari dan menerapkan standart perilaku yang disetujui masyarakat, keluarga, sekolah, dan dalam pergaulan dengan orang lain.

Karakteristik Perkembangan Moral

Karakteristik yang menonjol dalam perkembangan moral remaja adalah bahwa sesuai dengan tingkat perkembangan kognisi yang mulai mencapai tahapan berfikir operasional formal, yaitu mulai mampu berpikir abstrak dan mampu memecahkan masala-masalah yang bersifat hipotetis maka pemikiran remaja terhadap suatu permasalahan tidak lagi hanya terikat pada waktu, tempat, dan situasi, tetapi juga pada sumber moral yang menjadi dasar hidup mereka (Gunarsa,1988).

Perkembangan pemikiran moral remaja dicirikan dengan mulai tumbuh kesadaran akan kewajiban mempertahankan kekuasaan dan pranata yang ada karena dianggap sebagai  suatu  yang  bernilai,  walau  belum  mampu  mempertanggung  jawabkannya secara pribadi (Monks, 1988).

Perkembangan moral remaja yang demikian, jika meminjam teori perkembangan moral  dari  Kohlberg  berarti  sudah mencapai  tahap  konvensioanl.  Pada  akhir  masa remaja seseorang akan memasuki tahap perkembangan pemikiran moral yang disebut tahap pascakonvensional ketika orisinilitas pemikiran moral remaja sudah semakin jelas. Pemikiran moral remaja berkembang sebagai pendirian pribadi yang tidak tergantung lagi pada pendapat atau pranata yang bersifat konvensional.

Keragaman  tingkat  moral  remaja  disebabkan  oleh  faktor  penentunya  yang beragam  juga.  Salah  satu  faktor  penentu  atau  yang  mempengaruhi  perkembangan moral remaja itu adalah orangtua.

Menurut Adam dan Gullotta (1983) terdapat beberapa hasil penelitian yang menunjukkan bahwa orangtua mempengaruhi nilai remaja, yaitu sebagai berikut:

  1. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat moral remaja dengan tingka moral orangtua
  2. Ibu-ibu remaja yang tidak nakal mempunyai skor yang lebih tinggi dalam  tahapan nalar moralnya daripada ibu-ibu yang anaknya nakal, dan remaja yan  tidak nakal mempunyai skor lebih tinggi dalam kemampuan nalar moralnya dari pada remaja yang nakal
  3. Terdapat dua faktor yang dapat meningkatkan perkembangan moral anak atau remaja  ,  yaitu:  1). Orangtua  yang  mendorong  anak  untuk  berdiskusi  secara demokratik  terbuka  mengenai  berbagai  isu,    2).  Orangtua  yang  menerapkan disiplin terhadap anak dengan teknik berpikir  induktif  .

Upaya Optimalisasi Perkembangan Moral

Hurlock mengemukakan ada enam pokok utama yang perlu dipelajari oleh anak dalam mengoptimalkan perkembangan moralnya, yaitu:

  1. Mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotany sebagaimana dicantumkan dalam  hukum. Harapan tersebut  terperinci  dalam  bentuk  hukum, kebiasaan dan peraturan. Tindakan tertentu yang dianggap“benar” atau “salah” karena tindakan itu menunjang, atau dianggap tidak menunjang, atau menghalangi kesejahteraan anggota kelompok. Kebiasaan yang paling penting dibakukan menjadi peraturan hukum dengan hukuman tertentu bagi yang melanggarnya.
  2. Pengambangan hati nurani sebagai kendali internal bagi perliaku individu. Hati nurani merupakan tanggapan terkondisikan terhadap kecemasan mengenai beberapa situasi dan tindakan tertentu, yang telah dikembangkan dengan mengasosiasikan tindakan agresif dengan hukum.
  3. Pengembangan perasaan bersalah dan rasa malu. Setelah mengembangkan hati nurani, mereka dibawa dan digunakan sebagai pedoman perilaku. Rasa bersalah adalah sejenis evaluasi diri, khusus terjadi bila seorang individu mengakui perilakunya berbeda dengan nilai moral yang dirasakannya wajib untuk dipenuhi. Rasa malu adalah reaksi emosional yang tidak menyenangkan yang   timbul pada seseorang akibat adanya penilaian negatif terhadap dirinya.
  4. Mencontohkan,  memberikan   contoh   berarti   menjadi   model   perilaku   yang diinginkan muncul dari anak, karena cara ini bisa menjadi cara yang paling efektif untuk membentuk moral anak.
  5. Latihan dan Pembiasaan, menurut dan pembiasaan merupakan strategi penting dalam pembentukan perilaku moral pada anak usia dini. Sikap orang tua dapat dijadikan latihan dan pembiasaan bagi anak. Sejak kecil orang tua selalu merawat, memelihara, menjaga kesehatan dan lain sebagainya untuk anak.
  6. Kesempatan melakukan  interaksi  dengan  anggota  kelompok  sosial.  Interaksi sosial memegang peranan penting dalam perkembangan moral. Tanpa interaksi dengan orang lain, anak tidak akan mengetahui perilaku yang disetujui secara social, maupun memiliki sumber motivasi yang mendorongnya untuk tidak berbuat sesuka hati. Interaksi sosial awal terjadi didalam kelompok keluar

Upaya Sekolah dalam Rangka Mengembangkannya

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematik melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka membantu peserta didik agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek moral-spiritual, intelektual, emosional, maupun sosial.

Masa remaja akhir sudah mampu memahami dan mengarahkan diri untuk mengemnbangkan dan memelihara identitas dirinya. Dalam proses perkembangan independensi sebagai antisipasi mendekati masa dewasa yang matang, remaja:

  1. Berusaha untuk bersikap hati-hati dalam berprilaku, memahami kemampuan dan kelemahan dirinya.
  2. Meneliti dan mengkaji makna, tujuan, dan keputusan tentang jenis manusi seperti apa yang dia inginkan.
  3. Memperhatikan etika masyarakat, keinginan orangtua dan sikap teman- temannya.
  4. Mengembangkan sifat-sifat pribadi yang diinginkannya.

 

 

 

Loading...

Tinggalkan Balasan