Mengajar Generasi Milenial Butuh Trik Khusus

By | 17 Mei 2017

Generasi milenial lahir di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi yang demikian pesat. Karena itu lah, cara ajar untuk mendidik mereka pun harus dibedakan dan ada triknya.

“Mereka (genereasi milenial) tidak perlu lagi disuapi dengan pelajaran teoritis. Mereka sudah pandai membaca dan punya wawasan yang luas,” ujar Dekan Binus ASO School of Engineering Ho Hwi Chie, Sabtu (13/5/2017).

Wiwi, begitu ia biasa disapa menjelaskan bahwa satu hal yang memudahkan adalah fakta bahwa milenial tak perlu lagi diperkenalkan dengan teknologi. Mereka hanya perlu diarahkan agar ilmu yang sudah mereka miliki dari hasil pencarian sendiri itu mampu diterapkan dalam dunia nyata.

“Untuk masa-masa saat mereka bekerja nantinya,” lanjut Wiwi.

Sayangnya, milenial punya kebiasaan lain. Mereka cenderung ingin mencapai sesuatu dengan cepat dan instan karena terbiasa dengan kemudahan teknologi.

Hal itu, kata Wiwi menjadi tantangan bagi pengajar, khususnya generasi X. Pengajar harus sabar dan pandai berinteraksi dengan milenial. Di sisi lain, mereka juga cenderung kritis bertanya.

“Anak milenial (bila) disuruh A akan bertanya, kenapa mesti A? Kami harus punya penjelasan yang jelas dan konkret,” kata Wiwi.

Pengajar harus banyak memberikan pengertian pada anak didik. Biarkan mereka berpendapat dan bertanya sesuai dengan pengetahuanya. Bila ada hal yang kurang tepat, Wiwi menganjurkan pengajar untuk membuka ruang diskusi.

“Milenial perlu diberi penjelasan dan dibimbing guna menyadari (bila) mencapai sesuatu (itu) haruslah bersama-sama, tidak hanya fokus untuk diri sendiri,” kata dia.

Keadaan itu, katanya lagi bukan hanya berguna saat masa-masa belajar, melainkan juga untuk dunia kerja yang punya tuntutan untuk bekerja sama dengan orang lain.

“Dosen sebaiknya bisa jadi pemicu. Misal saat mahasiswa bertanya, (coba) tanya balik. Berikan sumber pencarian jawaban. Nanti mereka (milenial) yang akan eksplor sendiri,” ujarnya.

Dengan demikian, Wiwi berharap generasi milenial dapat semakin bergairah saat belajar dan menghasilkan ide baru.

Masa-masa belajar pun harus jadi produktif. Salah satu yang bisa memicu hal itu adalah saat ada tugas atau proyek dimana mereka dapat terlibat langsung dengan industri bersangkutan.

“Saat tugas dari bentuk teori diimplementasikan langsung, bisa jadi cara untuk melatih kesabaran milenial. Ini menjadikan mereka sadar kalau tidak (ada sesuatu yang) bisa dihasilkan dalam sekejap,” kata Wiwi.

sumber : kompas

Loading...

Tinggalkan Balasan