Mengajar dan Mendidik dengan Hati

By | 7 November 2017

mengajar dan mendidik

Mengajar dan mendidik adalah tugas pokok dan tuntutan atas profesi yang disandang oleh seseorang yang dikenal dengan istilah Guru. Siapapun orangnya ketika memutuskan memilih sekolah keguruan sebagai tempat untuk menempa ilmu sudah pasti tahu bahwa konsekuensi pekerjaan yang akan digelutinya adalah mengajar meskipun banyak juga lulusan-lulusan sekolah keguruan yang berprofesi di luar pakem yang seharusnya.

Banyak guru yang mengartikan bahwa Profesi guru adalah panggilan hidup sehingga memaknai tiap ucapan dan tindakan sebagai bagian untuk melayani anak manusia dalam peradaban. Oleh karena itu dalam menjalankan pekerjaannya membutuhkan kesabaran, ketulusan dan dedikasinya dalam membimbing para siswanya untuk menjadi manusia yang cerdas, berkualitas baik pengetahuan dan ketrampilan serta berakhlakul karimah. Sebagaimana yang tertulis dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.

Menurut Parker Palmer dalam bukunya The Courage to Teach (2003), mengatakan menjadi guru bukan sekadar melakukan pekerjaan biasa, tetapi juga memenuhi panggilan hati dan melakukan perjalanan spiritual.

Dalam menjalani profesinya seorang guru juga dituntut professional artinya harus memiliki sikap kecintaan dan semangat yang terus menerus pada bidang pendidikan. Dengan kata lain selalu ada keinginan untuk membuat siswanya belajar dengan senang dan mencapai keberhasilan sehingga seorang guru harus mampu mengembangkan kualitas akademik dan kompetensinya secara berkelanjutan.

Merujuk pada pengertian Parker Palmer bahwa menjadi guru juga merupakan perjalanan spiritual, dalam konteks agama Islam kita mengenal Ihsan. Pemahaman iman dalam etos kerja (mengajar) seorang guru yang professional adalah bagaimana ihsan dalam bekerja. Ihsan mengandung makna berkualitas baik dan indah. H.S. Habib Adnan seorang pengajar spiritual quotient berpendapat bahwa bekerja bukan hanya untuk duniawi saja namun juga akhirat, lantaran Islam menganggap keduanya sebagai satu kesatuan dan system kerja yang terintegrasi. Lebih lanjut Habib Adnan menjelaskan bahwa ada tiga tahapan ketika seorang muslim bekerja.

1. Tahap Pertama

Dasar fundamental seseorang bekerja adalah dengan memantapkan dirinya dengan iman atau hanya mengabdi kepada Allah semata.

2. Tahap Kedua

Melaksanakan pekerjaan dengan model Arkanul Islam, yakni: merasa bersama Allah dalam bekerja;

  • merasa bahwa dirinya tidak sendirian dalam bekerja, tetapi bersama dan bersatu dengan masyarakat manusia yang juga harus dihormati dengan duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, sehingga hasil kerja yang diperoleh merupakan kesejahteraan bersama;
  • segala produk dari Allah – baik materi maupun non materi – dimanfaatkan untuk meningkatkan diri masyarakat terutama di bidang ilmu dan akhlak;
  • jiwanya seantiasa diatur dan terjaga dengan baik, agar dalam bekerja tidak minder hingga mampu menghadapi pekerjaan dengan penuh kesungguhan dan kemampuan;
  • semua pekerjaan dikerjakan demi kemanusiaan.

3. Tahap ketiga

Melaksanakan tugas sebaik-baiknya, sempurna kualitas hasil dan juga motifnya lantaran merasa diawasi dan selalu bersama Allah.
Guru harus memaknai pekerjaan yang dilakukannya itu sebagai ibadah dimana kompensasi yang diperoleh bukan materi semata melainkan juga pahala dari Allah. Bermakna ibadah artinya ketika mengajar harus memasang niat karena Allah, merasa diawasi oleh Allah dan berharap output yang dihasilkan bermanfaat bagi kemaslahatan anak didik sehingga menjalaninya dengan penuh kesungguhan.

Baca juga :

Tips Bahagia dalam Mengajar

Tips Menasehati Anak

Mengenal karakteristik peserta didik dari aspek moral

Bukanlah suatu alasan guru harus meninggalkan tugas pokoknya mengajar hanya untuk mencari tambahan penghasilan guna memenuhi tuntutan ekonomi meskipun kita sadar bahwa penghasilan yang diperoleh belum bisa sepenuhnya memenuhi tuntutan hidup yang semakin tinggi. Namun bukankah sesungguhnya mengajar dan mendidik itu merupakan proses menjalankan amanah.

Amanah dari Allah bahwa kita diberi kelebihan atas ilmu yang harus disampaikan kepada orang lain/anak didik kita sesuai dengan hadits nabi sampaikanlah ilmumu walau hanya satu ayat. Amanah dari negara dimana guru merupakan garda terdepan dalam usaha mencapai tujuan negara yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan UU Guru dan Dosen merupakan bentuk pengakuan pemerintah terhadap profesi guru dengan memberikan penghargaan berupa tunjangan profesi meskipun belum seluruh guru mendapatkannya. Amanah dari orang tua yang telah menitipkan anak-anaknya pada sekolah/guru untuk dididik menjadi manusia-manusia yang berilmu dan berakhlaqul karimah.

Dalam kaitannya tugas guru mengajar dan mendidik maka pendekatan hati sangatlah penting. Artinya hati (qalb) menempati titik sentral dalam proses interaksi guru dan siswa sehingga membawa perubahan dan kebaikan dalam kehidupan peserta didik. Hati/qalb dilihat dari bahasanya berarti bolak-balik (labil). Sesuatu yang labil membutuhkan suatu panduan yang dapat mengarahkannya pada kebaikan. Rasulullah menyebutkan dalam suatu haditsnya bahwa jika segumpal daging (hati) jelek maka jeleklah perilakunya, sebaliknya bila ia baik maka baiklah seluruh perilakunya. Di samping itu, Alquran juga memaknia hati dengan akal (QS Al hajat:46) yang mampu memahami realitas kehidupan untuk kepentingan kedekatan diri dengan Allah dan kedekatan diri dengan manusia.

Mengajar dan mendidik dengan hati berarti guru memberikan contoh yang baik bagi anak didik kita. Proses keteladanan atau memberi contoh melalui sikap dan tingkah laku yang baik merupakan strategi yang ampuh dari sekadar mengajar di depan kelas. Semua itu berpulang pada bagaimana kita mampu mengefektifkan dan mengarahkan hati kita menjadi bersih dan suci. Karena dari hati bersih dan suci itulah akan terpancar perilaku yang bersih dan suci pula.

Mengajar dan mendidik dengan hati berarti guru memberikan contoh yang baik bagi anak didik kita

Apa bila ini bisa diterapkan di setiap jenjang satuan pendidikan maka bullying/kekerasan di dunia pendidikan tidak akan terjadi. Dengan demikian tanggung jawab guru tidak hanya pada tataran administrasi dan kelembagaan/kedinasan bagaimana siswanya bisa lulus dari suatu jenjang pendidikan atau memperoleh nilai-nilai yang mengacu pada kompeten dan belum kompeten melainkan juga tanggung jawab moral yang pertanggung jawabannya didepan Allah. Bukankah ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang selalu mendoakan orangtuanya adalah pahala yang terus mengalir meskipun kita sudah mati. Pada titik inilah mudah-mudahan apa yang dicita-citakan dari pendidikan bisa terwujud.

Tinggalkan Balasan