Mendikbud : Kelemahan Guru Sejarah, Terlalu Banyak Ceramah

By | 31 Agustus 2017

guru sejarah

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Indonesia, Muhadjir Effendy, mengatakan kelemahan guru sejarah ketika mengajar adalah terlalu banyak berceramah dan bertutur. Menurut Muhadjir, guru sejarah berfungsi sebagai pendidikan sejarah perjuangan bangsa.

Jadi, kata dia, sejarah yang diajarkan kepada peserta didik itu yang berpihak pada serangkaian fakta atas nama objektivitas siapa pun yang belajar. Dia menilai kemampuan guru sejarah di Tanah Air sudah mumpuni. Namun, dia menyayangkan kemampuan mengajar guru sejarah yang monoton.

“Salah satu kelemahan guru sejarah adalah terlalu banyak berceramah, sejarah bertutur. Guru sejarah pada dasarnya bukan pendongeng, bertutur, yang penting update lagi kemampuan metodologinya. Jangan monoton dengan satu jalur berkisah,” kata dia saat pidato pembukaan ceramah umum kesejarahan bertema “Pendidikan Sejarah Mempererat Kebinekaan dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)” di Jakarta, Senin (28/8).

Muhadjir meminta guru-guru menyadari posisinya sebagai seorang guru sejarah terkait tujuan memberikan sejarah itu pada peserta didik. Sejarah juga sebagai bagian mengembalikan semangat restorasi melalui pendidikan.

Untuk itu, dia mengusulkan kisah-kisah sejarah supaya dipanggungkan. Guru diminta menciptakan suasana bagaimana anak-anak menghayati masa lampu dengan membuat panggung sejarah pada masa kini dengan memberikan peran pada peserta didik pada sebuah episode sejarah perjuangan bangsa. “Bayangan saya sejarah bisa dipenggal beberapa episode, siswa main peran, dan skenario atas nama guru. Sebenarnya (metode sejarah dipanggungkan) sudah sih itu, tapi akan kita intensifkan,” kata dia.

Muhadjir mengatakan, akan ada tim penyusunan naskah drama kenapa jalan sejarah dipanggungkan dan dimainkan oleh siswa-siswanya kemudian nanti digelar panggung ini. Dengan program ini, diharapkan akan membuat penghayatan sejarah bisa lebih dalam. Selain itu, menjadikan sejarah bisa menggembirakan, menginspirasi, membangkitkan semangat perjuangan nasionalisme, dan kecintaan Tanah Air dalam diri anak-anak.

 

 

sumber : republika

Loading...

Tinggalkan Balasan