Tantangan Perubahan, Guru Pun Lambat Laun Bisa ‘Punah’

By | 6 Januari 2018

tantangan guru

Pesatnya perkembangan teknologi informasi terus menghadirkan tantangan sekaligus ancaman bagi kelangsungan pendidikan anak-anak di negeri ini. Persoalan semakin pelik manakala sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia belum sepenuhnya membuka seluas-luasnya ruang kreativitas anak dalam menjawab tantangan tersebut.

Yang terjadi, anak-anak justru terbelenggu oleh sistem pendidikan yang lebih mengedepankan prestasi, tapi sebetulnya masih mengabaikan kreativitas dan kemampuan inovatif anak. Hal ini terungkap dalam Workshop Gerakan Sekolah Menyenangkan, Implementasi Gerakan Sekolah Menyenangkan Menuju Sekolah yang Kreatif dan Inovatif di aula SD Labschool Universitas Negeri Semarang, Kamis(4/1).

Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan, Muhammad Nur Rizal MEng PhD, mengungkapkan, saat ini anak- anak hidup di zaman multistimulan, era otomasi, bahkan era artificial intelligent. Situasi ini mendatangkan konsekuensi yang sangat luar biasa bagi para generasi penerus bangsa ini. “Karena anak-anak sekarang dalam dimensi perubahan yang hampir terjadi di segala bidang maupun sendi kehidupan,” katanya.

Menurut Rizal, saat ini sudah banyak aplikasi yang menggantikan peran guru di ruang kelas. Sebut saja Pinterest, Youtube, dan seterusnya. Hal ini bisa terjadi karena internet sudah merambah ke mana-mana.

Pada saatnya, lama-lama guru pun bisa punah karena posisinya tergantikan oleh guru virtual. “Bapak-ibu masih tidak percaya? Dulu ada ojek sekarang ada Gojek. Sekarang orang kalau disuruh milih, kira-kira ojek apa Gojek?” tanya Rizal.

Di sisi lain, masih kata Rizal, sistem pendidikan kita masih memandang pendidikan harus diseragamkan. “Potret pendidikan kita ukurannya masih hafalan ketimbang mengeksplorasi potensi siswa. Sehingga, pada akhirnya jamak profesi yang sama sekali tidak nyambung dengan ijazah pendidikan. Indeks korupsi yang tinggi juga tidak lepas dari sistem pendidikan yang ada. Lantas, sistem sekolah harus bagaimana?”

Rizal pun memaparkan, sekolah tidak butuh sekolah yang mirip pabrik dan banyak membebani siswa dengan mata pelajaran. “Yang dibutuhkan adalah guru yang mampu mengonversi informasi menjadi added value nilai atau sesuatu yang bermanfaat,” lanjutnya.

Gerakan Sekolah Menyenangkan, kata Rizal, menawarkan pengembangan profesionalitas guru berbasis kreatifitas dan inovasi dalam pendidikan. Selain itu, gerakan ini juga menawarkan pengelolaan sekolah yang efektif.

Guru harus dapat mendidik siswanya memiliki keterampilan berpikir, bukan memikirkan materi. Sehingga orientasi belajar tidak hanya untuk meraih nilai akademik hanya karena kemampuan menghafal dan mengingat yang tinggi. Namun harus mampu merubah dan mengembangkan siswa menjadi pribadi yang cerdas, beretos kerja tinggi, bermoral, dan peduli terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.

“Gerakan Sekolah menyenangkan dirancang dengan pendekatan akar rumput, yakni kolaboratif, kolegial dari guru ke guru, pelibatan masyarakat hingga evidence-based atau menggunakan fakta sebagai umpan balik terhadap keberlanjutan proses pengembangan,” katanya.

Sementara itu, Kepala SD Labschool Universitas Negeri Semarang, M Mukhlas SPd mengatakan, banyak hal yang bisa digali dalam rangka mewujudkan sekolah yang inovatif dan menyenangkan bagi para siswa.

Oleh karena itu, workshop Gerakan Sekolah Menyenangkan ini menghadirkan para pemangku pendidikan mulai pengawas sekolah, kepala sekolah SD, serta orang tua siswa di wilayah Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. “Kebetulan, ada guru dan kepala sekolah SD swasta serta sembilan kepala sekolah serta guru SD negeri yang ada di wilayah Kecamatan gajahmungkur ini,” ujarnya.

sumber : republika.co.id

Tinggalkan Balasan