Cara Mendidik Anak Perempuan Agar Jadi Sholehah

By | 14 November 2016

anak-perempuanOrangtu tua mana yang tidak akan berbahagia jika dikaruniakan anak wanita sebab Rasulullah telah menjamin baginya surga jika sabar dan sukses mendidiknya. Barangsiapa yang diuji dengan memiliki anak wanita, lalu ia asuh mereka dengan baik, maka anak itu akan menjadi penghalangnya dari api neraka (HR. Bukhori).

Sebagian orangtua menganggap remeh mendidik anak wanita, bahkan lebih mengunggulkan anak laki. Padahal wanita adalah tiang peradaban dunia. Itulah kenapa, jika gagal mendidik anak wanita berarti kita telah memutus kebaikan untuk generasi masa depan. Gagal mendidik anak wanita berarti kelak kita akan kekurangan (ibu baik) di masa depan. Dan ujung-ujungnya rusaklah masyarakat.

Ajarilah anak wanita kita akan keutamaan menjaga kesucian diri bukan sekedar menjaga keperawanan. Suci dan perawan itu beda! Perawan terait dengan faktor fisik, dimana selaput dara tidak robek. Sementara suci terkait faktor akhlak dan sikap. Banyak wanita yang bisa jadi masih perawan tapi tidak suci. Ia membiarkan badanya disentuh, bibirnya dikecup lelaki lain, asal tidak bersetubuh. Sementara banyak juga wanita yang tidak perawan atas sebab kecelakaan, terjatuh, tapi masih suci. Sebab ia tidak biarkan lelaki lain menyentuhnya.

Qur’an memberikan wanita gelar terbaik kepada Maryam sebab ia selalu menjaga kesucian dirinya dalam kata, sikap dan tingkah laku. Maryam tak sembarang gaul dengan lelaki asing. Maka, saat ia dinyatakan hamil, ia tetap suci di mata Allah. Demikian pula dengan Bunda Khadijah, istri Rasulullah yang tidak lagi perawan tapi digelari ‘Ath Thohirah’ atau wanita suci. Dari rahim wanita suci kelak muncul generasi berkualitas. Nabi Isa adalah bukti keberkahan dari wanita yang menjaga kesuciannya.

Maka, tugas utama orangtua yan memiliki anak wanita adalah mengingatkan pentingnya kesucian bukan sekedar keperawanan. Ajarkan anak wanita untuk bersikap sepatutnya terhadap lelaki asing atau yang bukan mahram. Ramah boleh tapi tetap jaga kemuliaan diri.

Saat anak wanita belum baligh atau masih anak-anak, ajarkan ia untuk membedakan 3 jenis sentuhan: pantas, meragukan dan haram.

  • Sentuhan pantas itu muaranya kasih sayang. Ini dilakukan oleh orang lain kepada anak wanita yang belum baligh di bagian sekitar kepala dan pundak.
  • Sentuhan yang meragukan. Yakni antara kasih sayang vs nafsu. Biasanya berpindah-pindah tempat. Dari kepala turun ke bahu trus ke pinggang. Jika sudah melewati batas bahu, yakni ke pinggang, atau ke perut ajarkan anak untuk menolak dengan kalimat “aku gak suka ah.”
  • Terakhir, sentuhan haram. Yakni di wilayah sekitar kemaluan dan buah dada. Ajarkan anak kemampuan untuk menolak dan menghindar.

Dengan mengajari anak kita tentang sentuhan, ajarkan juga kepada mereka tentang berharganya tubuh mereka. Tidak boleh sembarangan disentuh.

Selain itu, ajarkan juga kepada anak wanita kita tentang siapa itu saudara, sahabat, kenalan dan orang asing. Sikapi dengan beda. Buat anak wanita tidak membutuhkan sosok lelaki lain yang jadi ‘pahlawan’ nya selain ayah, kakek dan kakak kandungnya. Saat mereka tumbuh remaja, tak jual murah dirinya demi dicintai lelaki lain. Sebab sudah ada sosk lelaki idola dalam hidupnya, khusunya ayahnya.

Sebagian besar remaja wanita yang memutuskan untuk pacaran, karena tak punya lelaki idola dirumahnya sebagai tempat berbagi. Dengan ayah dan kakak kandung tidak akrab. Sehingga ia membutuhkan figur lelaki lain. Akhirnya, perlahan kesuciannya pudar. Jadila mereka anak cabe-cabean.

Itulah kenapa AYAH perlu hadir dalam jiwa anak wanita sedari dini. Harus ada ikatan  batin di antara mereka agar anak wanita ta cari idola lain. Ayah harus sering berkomunikasi dengan anak wanita nya saat dalam kandungan. Saat lahir, anak mengenali suara ayahnya pertama kali didengar. Saat lahir, jadikan wajah AYAH lebih banyak di scan dalam memori anak. Hadirkan ekspresi saat menggendong anak. Ikatan batin antara ayang dan anak wanita ini memberi pengaruh saat anak tumbuh dewasa dan mengalami persoalan hidup.

Saat anak wanita mulai jatuh cinta, ia akan jadikan AYAH sebagai mentor cintanya. Tak ingin ditipu lelaki buaya. Nasehat ayah jadi panduan. Saat anak wanita siap menikah, ia mencari sosok lelaki seperti ayahnya. Atau setidaknya pilihan ayahnya. Bahkan saat anak wanita menjalani gonjang ganjing pernikahan. Ia tak butuh lelaki lain sebagai tempat curhat. Ayahnya la yang jadi Labuan.

Peran ayah dalam menjaga kesucian anak wanita amatlah vital. Rusaknya moral anak wanita saat ini salah satunya adalah karena ketidakterlibatan ayah dalam mengasuh. Karena itu, ajaklah para ayah agar terlibat dalam pengasuhan. Tak Cuma sekedar cari nafkah. Tapi peduli akan anaknya khususnya yang wanita.

Semoga anak wanita di negeri ini selalu jaga kesuciannya sehingga lahir generasi yang diberkahi.

By : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

Tinggalkan Balasan