Tips Menasehati Anak

By | 19 November 2017

menasehati anak

Menasihati merupakan keahlian bawaan lahir dari setiap orang, bahkan tak jarang memberi  nasehat dilakukan dengan cara berlebihan. Begitu juga dengan kebiasaan menasihati para orangtua terhadap anaknya.

Pada dasarnya, menasihati anak dengan cara berlebihan bisa jadi tidak menghasilkan apapun. Bahkan mungkin, anak tidak pernah mengikuti apapun nasihat orangtuanya. Namun, kemampuan memberi nasihat itu sebenarnya bisa dipelajari dan dilatih. Dengan begitu, mereka lebih menerima nasihat tersebut.
berikut ini adalah cara memberikan nasihat tepat sasaran pada anak.

Mulai dengan pertanyaan dan bukan pernyataan.

Misalnya anak kita pulang telat  waktu yang ditentukan. Sebaiknya mulailah dengan pertanyaan, “Eh anak mama… kemana saja? kok baru sampai?” Jangan mulai dengan, “Kamu pulang terlambat, main dulu ya…?!”

Jangan paksa apabila anak belum ingin bicara.

Tiap anak memiliki tipe berbeda. Ada  tipe anak yang ingin langsung ditanya dan menjelaskan saat itu juga. Ada juga tipe anak inginkan kita duduk di sampingnya kemudian, kemudian bicara sendiri sebelum ditanya  Ada juga tipe anak yang diam, istirahat bersih-bersih badan dulu, baru setelah itu merasa nyaman ditanya. Hal ini penting sekali untuk diketahui agar kedua belah pihak tidak ada yang merasa tersakiti. Jika kita berhasil mengetahui ciri masing-masing anak, pasti kita bisa mengajaknya untuk berdialog.

 

Baca juga :

Mengajar dan mendidik dengan Hati

Mengenal karakteristik peserta didik dari aspek moral

Oarngtua harus oaham karakter anak untuk kembangkan kecerdasannya

 

Tugas kita adalah hanya bertanya dan mendengar saja.

Pada saat anak beranjak dewasa, ubahlah cara mendidiknya. Jangan samakan dengan cara mendidik saat anak masih di bangku Taman Kanak-kanak atau Sekolah Dasar. Kasus terbesar dan sering terjadi antara orangtua dengan anaknya adalah tidak menyadari bahwa anak sudah beranjak remaja dan dewasa.

Kondisi anak jika sudah beranjak dewasa cenderung lebih membutuhkan pola asuh yang cenderung lebih mengakomodasikan kepentingan anak, seperti ingin mengambil keputusan sendiri, bukan mematuhi aturan yang diputuskan oleh orangtua. Ini sangat bagus karena anak akan mampu mengambil keputusan sendiri saat mereka berada jauh orangtuanya.

Tugas kita sebagai orang tua adalah mendengar dan merespon secara positif. Hal itu untuk menunjukkan bahwa kita tidak hanya mendengar, melainkan “menyimak” dan merespon dengan baik ceritanya.

Mungkin bisa 5 menit, 15 menit, atau 30 Menit  anak kita bercerita, jangan sekali-kali Anda bosan untuk mendengarkannya. Kapan saatnya boleh berbicara? Saat anak Anda sudah mengeluarkan kalimat, “Oh iya Ma, gimana Ma… menurut Mama bener gak sih aku?” atau “Oh iya Ma, menurut Mama, mestinya harus bagaimana…?” atau pertanyaan anak lainnya agar Anda nemberi pendapat. Apabila anak sudah puas berbicara dan sudah mengeluarkan kalimat semacam itu, telinga dan hatinya sudah siap dan terbuka lebar untuk menerima masukan dan saran kita.

Sampaikan nasihat dalam bentuk metafora atau cerita pengalaman masa lalu.

Jangan terpancing untuk memberi nasihat langsung. sangat baik jika menggunakan sebuah cerita pengalaman kita atau orang lain mirip dengan kasus  oleh anak kita. Ceritakan secra detail tanpa bermaksud untuk menyindir. Kemudian, jelaskan hikmah dari kisah yg Anda ceritakan. Sisipkan nasihat-nasihat Anda, ambil hikmah dari cerita tersebut agar anak tidak menyadari bahwa sebenarnya kita sedang dinasihati.

Akhiri pembicaraan dengan membiarkan anak menentukan pilihan  terbaik bagi dirinya.

Jangan risaukan pilihan atau keputusan anak.

Anda tidak perlu takut atau risau dengan pilihan dan keputusan anak. Jika anak keliru dalam memilih atau memutuskan, itu sebenarnya bagian proses belajar dan pendewasaan mental anak. Ingatlah, tugas orangtua adalah bukan membuat anak tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan anak bisa belajar dari kesalahannya atau tidak mengulangi kesalahan yg sama yg pernah dibuat oleh orang lain.

Demikian semoga bermanfaat

 

Tinggalkan Balasan